Sejarah Indonesia
Materi 1: Reaksi Kerajaan Islam Terhadap Kedatangan Bangsa Portugis dan Spanyol di Nusantara
1. Perlawanan kerajaan Aceh yang dipimpin Sultan Ali Mughayat Syah dan dilanjutkan Sultan Iskandar Muda Perang tersebut disebabkan oleh persaingan antara kerajaan Aceh dengan Portugis dalam memperebutkan jalur perdagangan di selat Malaka. Usaha Aceh untuk menying kirkan Portugis dilakukan dengan cara melengkapi kapal dagangnya dengan prajurit dan persenjataan, menjalin kerjasama dengan kerajaan Demak, dan meminta bantuan persenjataan ke Turki, Inggris, Goa dan Gujarat. Dalam perang tersebut tidak ada yang menang dan yang kalah. Perang berakhir setelah jatuhnya pelabuhan Malaka ke tangan Belanda tahun 1641.
2. Perlawanan Kerajaan Demak
Untuk menyingkirkan Portugis dari Malaka, Pangeran Sabrang Lor atau Dipati Unusmenghimpun dan mengirimkan pasukan dari Jawa, Makasar, Lampung dan bekerjasama dengan kerajaan Aceh untuk merebut pelabuhan Malaka namun gagal karena kalah persenjataan bahkan Dipati Unus tertembak namun masih selamat sampai di Jawa. Untuk menghalangi kekuasaan Portugis atas Jawa yaitu Sultan Trenggono (pengganti Dipati Unus) memperluas kekuasaan ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Tetapi Pasuruan dan Blambangan tidak berhasil ditaklukkan
3. Perlawanan Kerajaan Ternate
Perlawanan mulai terjadi sejak tahun 1533 yang dipimpin Sultan Dajalo. Perang ini disebabkan oleh adanya monopoli perdagangan oleh Portugis, Portugis ikut campur tangan masalah intern kerajaan serta keserakahan dan kesombongan Portugis yang memandang rendah penduduk Ternate. Untuk itu Sultan Dajalo menyatukan rakyat Ternate, Tidore, dan Irian untuk bangkit melawan Portugis. Pasukan Ternate berhasil membakar benteng dan mendesak pasukan Portugis. Tetapi berkat bantuan pasukan Portugis dari Malaka yang dipimpin Antonio Galvano perlawanan dapat dipadamkan.
Pada tahun 1565 perlawanan rakyat bangkit lagi, dipimpin S. Hairun, pasukan Portugis terdesak dan minta diadakan perjanjian damai di benteng New Victoria. S Hairun memenuhi permintaan Portugis namun secara licik S. Hairun dibunuh oleh kaki tangan Portugis di dalam benteng Meninggalnya Sultan Hairun membuat marah rakyat Ternate perlawanan berkobar lagi dan lebih besar dipimpin Sultan Baabulah putra S. Hairun. Pada tahun 1574 benteng Portugis berhasil direbut dan tanggal 28 Desember 1577 Portugis terusir dari seluruh Maluku dan melarikan diri ke Timor-timur.